Revolusi Mental dan Reformasi
Akhlak
Banyak
teori mencapai kebahagiaan, dan teori terbaik adalah yang yang ditawarkan Islam
berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Termasuk di dalamnya perlunya revolusi
pola pikir dan pola sikap dengan cara mereformasi akhlak keseharian kita.
Oleh: A. Fatih Syuhud
Tujuan
pertama ketika manusia bangun tidur di pagi hari adalah bagaimana untuk survive (bertahan hidup) dan
meneruskan kehidupan. Ini yang disebut kebutuhan dasar. Hal ini terjadi bukan
hanya pada manusia, tapi juga hewan. Apabila kebutuhan dasar ini sudah
terpenuhi, maka tujuan kedua adalah bagaimana mencapai kebahagiaan.
Tujuan
pertama memotivasi terjadinya perputaran, pergerakan dan dinamika ekonomi.
Manusia bekerja, memutar otak dan mengerahkan segala kemampuan jiwa dan raga
untuk menelorkan hasil ekonomi yang maksimal sesuai dengan kemampuan akal
pikiran, skill dan latar belakang
pendidikannya. Dari mulai bekerja sebagai pemulung, petugas sampah, pegawai
negeri dan swasta, direktur perusahaan sampai jadi presiden.
Tujuan
kedua, yakni mencapai kebahagiaan, memotivasi manusia untuk berfikir dan
berbuat lebih dari sekedar mencari sesuap nasi. Dari kalangan umat manusia yang
mendapat kelebihan berpikir, lahirlah berbagai teori bagaimana kebahagiaan
dapat dicapai tidak saja oleh manusia sebagai invididu, tapi juga oleh manusia
sebagai bagian dari suatu bangsa di suatu negara tertentu dan bahkan dunia.
Di Barat,
muncullah nama-nama filsuf besar Yunani seperti Sokrates (469 –399 S.M), Plato
(428 – 427 S.M), Aristoteles (384 – 322 S.M). Di Timur muncul nama Konfusius,
pendiri Kong Hu Chu (551–479 S.M), dan Siddhartha Gautama, pendiri agama Budha
(563–483 sebelum Masehi), dan banyak lagi.
Pendapat Filsuf Non-Muslim
tentang Bahagia
Sokrates
berpendapat bahwa untuk mencapai kebahagiaan seseorang harus mengetahui apa
yang diinginkan nuraninya, bukan fisiknya, dan berusaha mencapai keinginannya
itu. Karena, menurut Sokrates, kebahagiaan itu mengalir tidak dari kondisi
fisik atau eksternal seperti kenikmatan badani atau kekayaan materi dan
kekuasaan, akan tetapi ia berasal dari kehidupan yang sesuai dengan jiwa dan
rasa terdalam seseorang.[1]
Plato
berkeyakinan bahwa kebahagiaan itu adalah apabila seseorang dapat mencapai
apapun yang dia cita-citakan, seperti menjadi kaya atau jadi penguasa, asal
dengan cara yang benar, adil dan bermoral.[2]
Aristoteles
percaya bahwa hidup bahagia itu adalah apabila seseorang dapat mencapai potensi
diri secara maksimal dengan cara yang etis.[3]
Setiap
orang, kata Konfusius, dapat mencapai kebahagiaan. Manusia pada dasarnya baik
dan bahwa apabila seseorang mengikuti aturan moral yang ketat dan mengoreksi
perilakunya, maka seluruh penyakit dunia akan hilang dan kebahagiaan akan
tercapai.[4]
Sementara
Siddhārtha Buddha Gautama mengatakan bahwa jiwa dan raga adalah dua hal yang
terpisahkan. Jiwa akan menjadi penyebab pada eksistensi dan kondisi seseorang.
Apa yang dialami seseorang merupakan cerminan dari apa yang dipikirkan.
Seseorang yang berbicara atau berbuat dengan pemikiran buruk, akan membuatnya
sengsara. Sementara apabila dia berbicara dan bertindak dengan pikiran jernih,
maka dia akan mencapai kebahagiaan.[5]
Dimulai
oleh para filsuf klasik di atas, maka muncullah banyak para pemikir pemikir
terkemuka pada abad-abad setelahnya yang buah pikirannya tidak hanya
memfokuskan diri pada bagaimana mencapai kebahagiaan individual, tapi juga
bagaimana menciptakan suatu sistem komprehensif untuk membuat tata dunia baru.
Diharapkan dari sistem baru tersebut, kebahagiaan manusia sebagai suatu
individu dan bangsa akan tercapai. Sistem itu bukan hanya mengatur etika
bersosial, tapi juga bernegara, berbangsa dan berekonomi. Dari situ munculllah
paham-paham seperti Demokrasi dan Komunisme di bidang politik; Kapitalisme dan
Sosialisme di bidang ekonomi. .
Di sisi
lain, dengan tujuan yang sama yakni untuk menciptakan umat manusia yang dapat
hidup bahagia, Allah menurunkan agama Islam. Ada 25 Nabi dan Rasul yang diutus
ke dunia untuk menyebarkan Islam. Dan Rasul Allah terakhir adalah Nabi Muhammad
dengan mukjizatnya yang tak tertandingi yaitu Al Quran. Sebuah mukjizat yang
tiada pernah habis untuk dibahas, diteliti dan dianalisa tidak hanya oleh para
pemikir, mujtahid dan ulama muslim; tapi juga oleh para sarjana non-muslim.
Hidup Bahagia adalah Akhlakul
Karimah
Islam
telah memberi pesan jelas, tegas dan singkat bahwa untuk mencapai kebahagiaan
baik yang bersifat pribadi, kelompok maupun umat, satu kata yang diperlukan
yaitu akhlakul karimah (QS Al Qalam 68:4). Hal ini dipertegas dengan sabda Nabi
yang menyatakan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlakul karimah(innama bu’itstu li utammima makarimal
akhlaq).
Dengan
demikian, akhlakul karimah menjadi tema sentral Islam dalam rangka menuju hidup
bahagia. Secara garis besar, akhlakul karimah terdiri dari akhlak kepada Allah
(QS Ali Imron 2:103), akhlak kepada sesama manusia (QS Ali Imron 2:112) dan
akhlak pada diri sendiri (QS At Tahrim 66:6).
Akhlak
pada Allah atau hablun min Allah adalah suatu
poin penting yang membedakan antara konsep yang ditawarkan Islam dengan teori
buatan manusia. Konsep hablun min Allah ini dapat
digambarkan bahwa seorang muslim sejak ia lahir sudah menjalani semacam “kontrak
sosial” dengan Allah untuk percaya pada keesaan-Nya. Di mana sebagai
konsekuensinya, seorang muslim akan menjalankan semua perintah dan menjauhi
laranganNya dengan penuh totalitas dan tanpa reserve.[6]
Akhlak
pada sesama manusia atau hablun minannas adalah suatu
hal yang tak terelakkan. Bahkan, pada dasarnya, hubungan antara sesama umat
manusia ini, baik antara sesama muslim maupun dengan nonmuslim, menjadi topik
utama ajaran Islam. Tidak hanya itu, standar kesalihan seorang muslim sering
diidentikkan dengan satu hal: bahwa kadar keimanan seseorang kepada Allah
tergantung seberapa baik relasinya dengan sesama manusia. Seberapa besar
manfaatnya kepada manusia lain (QS Ali Imron 3:92).
Akhlak
pada diri sendiri ini adalah proses seorang muslim untuk menyucikan diri (QS As
Syams 91:9), mereformasi akhlak. Karena, pada dasarnya karakter manusia adalah
ibarat bahan mentah yang masih perlu dimasak. Quran bahkan menyatakan bahwa
secara naluri dasar, karakter manusia cenderung buruk (QS An Nisa’ 4:127) pada
saat yang sama dengan anugerah akal yang diberikan Allah, manusia berkesempatan
untuk melakukan pilihan: antara pilihan yang baik dan plihan yang buruk (QS Al
Balad 90:9). Dan Allah sudah menegaskan untuk tidak akan merubah keadaan
seseorang (kaum) sampai orang itu berusaha merubahnya sendiri (Ar Ra’d 13:11).
Dengan mereformasi akhlak pribadi dalam bertindak dan berfikir, diharapkan
segala perilaku keislaman seorang menjadi semakin tinggi nilainya karena
didasarkan pada motivasi yang benar dan tulus.
Reformasi
akhlak inilah yang menjadi bahasan utama buku ini. Semoga kesuksesan dunia dan
kebahagiaan akhirat menyertai kita semua. Amin. Wallahu a’lam bisshawab.
Sumber:
[1] http://www.fatihsyuhud.net/
[2]
Celina Luzanne, Heritage Of Buddha: The Story Of Siddhartha Gautama,
Kessinger Publishing, LLC, USA (July 25, 2007)
[3]
Fazlur Rahman, Islam, University Of Chicago
Press; 2nd edition (August 15, 1979)
[4] http://www.al-hisbah.com/2015/01/revolusi-akhlak-vs-revolusi-mental.html

No comments:
Post a Comment